9 Keputusan Hidup yang Disesali Banyak Baby Boomer: Pelajaran Berharga tentang Kesuksesan dan Kebahagiaan

9 Keputusan Hidup yang Disesali Banyak Baby Boomer: Pelajaran Berharga tentang Kesuksesan dan Kebahagiaan
MBACA.CO-Masing-masing generasi memiliki pandangan tersendiri tentang keberhasilan. Untuk generasi baby boomer—yang lahir antara tahun 1946 hingga 1964—keberhasilan sering dikaitkan dengan memiliki rumah besar, pekerjaan tetap yang stabil, masa pensiun yang nyaman, serta aset yang dapat diserahkan kepada keturunan.
Standar ini muncul dalam konteks sosial dan ekonomi setelah Perang Dunia II, saat stabilitas menjadi prioritas utama yang diinginkan.
Namun, ketika usia mencapai enam puluhan hingga tujuh puluhan, banyak dari mereka mulai meragukan makna sebenarnya dari kesuksesan yang telah mereka perjuangkan selama beberapa dekade. Mereka menyadari bahwa meskipun secara finansial berhasil, masih ada ruang kosong yang belum terisi—ruang yang sering kali berasal dari keputusan hidup yang salah.
Dikutip dari situs Geediting.com, artikel ini tidak bermaksud menyalahkan atau menghina prestasi generasi baby boomer.
Justru sebaliknya, kita dapat memperoleh pelajaran dari refleksi dan penyesalan mereka agar generasi saat ini—milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha—tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Berikut sembilan pilihan hidup yang secara diam-diam disesali oleh banyak orang tua muda yang sukses, lengkap dengan pelajaran berharga yang dapat kita ambil.
1. Memilih Pekerjaan yang Aman, Bukan Pekerjaan yang Penuh Semangat
Banyak generasi tua tumbuh di lingkungan yang mengutamakan stabilitas keuangan. Menjadi pengacara, dokter, akuntan, atau pegawai pemerintah dianggap sebagai pilihan terbaik. Pekerjaan di bidang seni, musik, atau kreatif sering kali dianggap tidak aman dan kurang menguntungkan.
Akibatnya, banyak orang menghabiskan puluhan tahun dalam pekerjaan yang stabil tetapi tidak memberikan semangat. Mereka naik pangkat, memperoleh penghasilan besar, bahkan dihormati oleh lingkungan sekitarnya. Namun di bagian terdalam hati, mereka merasa hampa. Karier yang aman justru menjadi keterikatan yang menghalangi mereka dari kebebasan untuk berkarya.
Sekarang, ketika masa pensiun tiba, banyak orang menyesali pilihan untuk tidak pernah benar-benar mencoba mengikuti karier yang sesuai dengan minat mereka. Mereka berharap bisa kembali ke masa muda dan mengambil peluang yang dulu terasa menakutkan.
Jangan hanya memutuskan karier hanya karena gaji atau pangkat. Tanyakan pada diri sendiri: apakah pekerjaan ini membuat saya antusias bangun setiap pagi? Jika tidak, mungkin sudah waktunya untuk mengubah kembali pertimbangan Anda.
2. Menempatkan Pekerjaan Lebih Penting Daripada Kehadiran Saat Anak Masih Muda
Salah satu penyesalan paling besar yang sering muncul adalah tidak bisa menghadiri masa kecil anak-anak mereka. Banyak generasi baby boomer yang terlalu fokus pada pembangunan karier dan stabilitas finansial, hingga melewatkan momen berharga seperti pertunjukan sekolah, perayaan ulang tahun, atau bahkan hanya membacakan cerita sebelum tidur.
Bagi mereka, logikanya sederhana: bekerja keras saat ini agar bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak. Namun, mereka salah memahami bahwa kehadiran emosional jauh lebih penting daripada hanya kestabilan finansial.
Akibatnya, hubungan dengan anak-anak saat mereka dewasa sering terasa dingin. Mereka bersikap sopan, penuh hormat, tetapi tidak tercipta ikatan emosional yang mendalam.
Anak-anak masih sangat muda. Jangan mengabaikan waktu bersama mereka hanya karena tuntutan pekerjaan. Keberadaan Anda pada hari ini lebih bernilai daripada tambahan uang di rekening bank.
3. Bertahan di Dalam Pernikahan yang Sudah Lama Tidak Berkembang
Banyak pasangan dari generasi boomer tetap mempertahankan pernikahan yang tidak sehat, baik karena anak, tampilan, maupun kestabilan finansial. Mereka tinggal bersama seperti teman kamar, bukan sebagai pasangan sejati. Perasaan cinta telah berkurang, namun mereka memutuskan untuk tetap bersama karena takut dihakimi atau kesulitan dalam kondisi ekonomi.
Sayangnya, keputusan ini sering kali memicu rasa kesepian yang lebih dalam. Beberapa akhirnya memutuskan berpisah di usia tua, yang justru menyebabkan perasaan kehilangan waktu yang berharga. Sementara yang lain memilih untuk terus bertahan dengan kompromi yang tetap, meskipun hidup dalam ketidakpuasan.
Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh dengan kehidupan, bukan hanya sekadar bertahan. Jangan ragu untuk meninggalkan sesuatu yang kosong agar bisa memberi ruang bagi kebahagiaan yang sebenarnya.
4. Mengumpulkan Barang, Bukan Pengalaman
Budaya konsumsi pada masa tahun 70-an hingga 90-an membuat banyak generasi baby boomer menganggap bahwa keberhasilan diukur dari jumlah barang yang dimiliki. Rumah besar, mobil mewah, kapal pesiar, serta koleksi jam tangan menjadi tanda dari pencapaian.
Namun, seiring bertambahnya usia, segala sesuatu itu justru menjadi beban. Rumah yang luas terasa sunyi, mobil mewah jarang dipakai, dan barang-barang koleksi tidak memberikan kebahagiaan sejati. Mereka menyadari bahwa pengalaman—perjalanan, petualangan, serta waktu bersama orang yang dicintai—jauh lebih berharga daripada kepemilikan barang.
Alih-alih membeli barang mahal, alihkan dana Anda untuk pengalaman. Kenangan tidak dapat dibeli, tetapi bisa dihasilkan.
5. Mengakhirkan Kehidupan Hingga Masa Pensiun
“Saat pensiun, saya akan…” adalah kalimat yang sering diucapkan oleh generasi baby boomer. Mereka menunda keinginan untuk melakukan perjalanan keliling dunia, menulis buku, belajar seni, atau mencoba hal-hal baru karena alasan belum memiliki waktu.
Masalahnya, ketika masa pensiun tiba, mereka tidak lagi memiliki energi, kesehatan, atau bahkan semangat untuk benar-benar mewujudkan semua impian tersebut. Akibatnya, mereka merasa telah menunggu terlalu lama dan kehilangan arah.
Jangan menunggu sampai pensiun untuk menikmati hidup. Jika ada impian yang bisa kamu wujudkan sekarang, segeralah lakukan. Waktu tidak pernah kembali.
6. Menjaga Persahabatan Berdasarkan Ketenangan, Bukan Hubungan Asli
Lingkaran pertemanan banyak kalangan orang tua terbentuk akibat kebetulan: rekan kerja, tetangga, atau sesama orang tua siswa. Hubungan-hubungan ini bersifat fungsional, bukan berdasarkan perasaan.
Saat masa pensiun tiba, banyak orang merasa kesepian. Persahabatan yang terbentuk selama masa kerja sering kali hilang bersamaan dengan berakhirnya karier. Mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki banyak teman dekat yang benar-benar memahami diri mereka.
Bangun pertemanan yang tulus. Temukan sahabat yang mampu Anda percaya untuk berbagi perasaan paling dalam, bukan hanya sekadar beraktivitas bersama.
7. Mengabaikan Cedera Jiwa dan Perasaan
Generasi baby boomer tumbuh dengan prasangka bahwa terapi hanya ditujukan bagi orang yang “tidak normal”. Mereka diajarkan untuk menahan perasaan, mengabaikan luka batin, dan bekerja lebih keras guna mengatasi masalah internal.
Namun, pada usia tua, semua luka tersebut kembali menghantui. Trauma masa kecil, rasa cemas, dan depresi yang tidak pernah terselesaikan muncul kembali ketika karier tidak lagi menjadi tempat pelarian. Akhirnya, banyak orang baru mencari bantuan profesional terlambat.
Jangan lalai terhadap kesehatan jiwa. Seperti tubuh, pikiran juga memerlukan perawatan. Minta bantuan saat Anda membutuhkannya—ini merupakan tanda keberanian, bukan ketidakmampuan.
8. Kehidupan yang Bertujuan Mendapatkan Persetujuan Orang Tua
Banyak generasi baby boomer yang menjalani kehidupan bukan demi diri mereka sendiri, tetapi untuk memenuhi harapan orang tua. Mereka memilih pekerjaan tertentu, menikah dengan seseorang tertentu, bahkan tinggal di lokasi tertentu hanya karena dianggap “benar” oleh orang tua.
Sayangnya, banyak orang tetap menjalani kehidupan yang sama meskipun orang tua mereka telah pergi. Mereka menyadari terlalu terlambat bahwa hidup mereka diatur oleh suara-suara dari masa lalu.
Hiduplah dengan fokus pada diri sendiri. Orang tua mungkin memberikan petunjuk, tetapi keputusan akhir berada di tangan Anda.
9. Memandang Kesuksesan Sebagai Tujuan, Bukan Sebuah Proses
Para Boomer tumbuh dengan keyakinan bahwa kesuksesan merupakan tujuan akhir: posisi tinggi, rumah besar, dan masa pensiun yang nyaman. Namun, akhirnya mereka menyadari bahwa setiap kali tujuan tercapai, muncul tantangan baru yang membuat mereka selalu merasa kurang.
Mereka melupakan bahwa kebahagiaan sesungguhnya berada dalam perjalanan, bukan di tujuan. Akibatnya, meskipun memiliki banyak prestasi, mereka masih merasa hampa.
Jangan menilai kehidupan hanya berdasarkan hasil yang dicapai. Nikmati perjalanan, hargai langkah kecil, dan jangan menunggu sampai “berhasil” untuk merasa bahagia.
Rasa menyesal dari generasi baby boomer yang dianggap sukses bukanlah tanda kegagalan, melainkan gambaran dari standar keberhasilan yang terlalu sempit. Mereka memenangkan permainan yang diajarkan, namun akhirnya menyadari aturan dalam permainan itu salah.
Pemuda dapat belajar pelajaran berharga: bahwa kehidupan tidak hanya terbatas pada uang, posisi, atau harta. Lebih dari itu, hidup melibatkan hubungan, pengalaman, kesehatan, kebebasan, serta kebahagiaan yang tulus.
Jika ada satu warisan berharga yang dapat diberikan generasi boomer, yaitu kejujuran mereka mengenai keterbatasan kesuksesan konvensional. Dengan mendengarkan mereka, kita mampu menciptakan makna kesuksesan yang lebih manusiawi—yang menempatkan kepuasan batin sejajar dengan pencapaian eksternal.