Aktivitas Menurun, Status Gunung Lewotobi Turun Jadi Siaga

AA1L4kl9

Aktivitas Menurun, Status Gunung Lewotobi Turun Jadi Siaga

MBACA.CO – Status aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), secara resmi diturunkan dari Tingkat IV (Awas) ke Tingkat III (Siaga) pada Sabtu (23/8/2025).

Keputusan tersebut diambil oleh Badan Geologi setelah hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tren aktivitas visual dan gempa bumi.

Keputusan tersebut didasarkan pada hasil analisis dan penilaian menyeluruh terhadap pengamatan visual serta alat instrumental aktivitas Lewotobi Laki-laki dalam beberapa hari terakhir.

“Kemajuan terbaru dari hasil analisis data visual dan gempa menunjukkan penurunan tingkat aktivitas,” kata Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, dalam pernyataannya, Minggu (24/8/2025).

Wafid mencatat berdasarkan pengamatan visual selama periode pengamatan Jumat 22 hingga Sabtu 23 Agustus 2025, area puncak gunung berapi terlihat jelas hingga tertutup awan dengan intensitas yang rendah.

Terlihat asap dari kawah utama berwarna putih dan abu-abu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, mencapai ketinggian sekitar 50-500 meter dari puncak.

Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah dari arah utara, timur laut, barat, dan barat laut. Suhu udara berkisar antara 16,3 hingga 28,9 derajat.

Letusan terjadi dengan ketinggian 800 hingga 1000 meter dari puncak, kolom abu yang dihasilkan berwarna kelabu.

Data gempa yang tercatat, yakni 4 kali erupsi, 29 kali hembusan, 32 kali getaran tidak harmonis, 26 kali frekuensi rendah, 8 kali gempa dalam, dan 12 kali gempa tektonik jauh.

“Data gempa ini menunjukkan tren penurunan aktivitas vulkanik menuju kestabilan jangka pendek, dengan dominasi gempa dangkal dan gempa permukaan,” ujarnya.

Wafid menjelaskan bahwa letusan terjadi akibat material magma yang berada di lapisan dalam yang bergerak ke permukaan.

Api di sekitar puncak tampak redup dan samar, menunjukkan bahwa material panas di puncak mulai mengalami pendinginan.

Wafid menjelaskan bahwa kegiatan gempa bumi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh gempa yang terjadi di lapisan permukaan bumi.

Namun, dalam tiga hari terakhir terjadi peningkatan gempa berfrekuensi rendah, yang menunjukkan bahwa sistem magmatik masih belum stabil sehingga pasokan gas dan magma masih terus berlangsung.

Di sisi lain, berdasarkan data dari tiltmeter selama tiga hari terakhir menunjukkan pola yang berubah-ubah tetapi cukup stabil, mengindikasikan bahwa belum ada aliran magma di kedalaman dangkal.

Selanjutnya, berdasarkan data Global Navigation Satellite System (GNSS) dalam lima hari terakhir menunjukkan pola inflasi, namun dua hari terakhir ini terlihat adanya deflasi pada komponen vertikalnya.

Keadaan ini menunjukkan adanya pasokan baru yang bergerak dari dalam ke permukaan dengan kecepatan yang perlahan dan belum terlihat adanya pasokan besar.

“Proses perpindahan magma dari dalam ke lapisan yang lebih dangkal masih berlangsung, sehingga masih terdapat kemungkinan terjadinya letusan dengan skala kecil di masa depan,” tegasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *