Orang Berkepribadian Adiktif Sering Ubah 8 Perilaku Jadi Obsesi, Ini Penjelasan Psikologi

Orang Berkepribadian Adiktif Sering Ubah 8 Perilaku Jadi Obsesi, Ini Penjelasan Psikologi
MBACA.CO – Di bidang psikologi, sifat kepribadian yang cenderung adiktif tidak hanya terbatas pada ketergantungan terhadap bahan tertentu seperti alkohol atau narkotika.
Lebih dari itu, sifat ini mencerminkan kecenderungan seseorang untuk terlalu memperhatikan suatu aktivitas, kebiasaan, atau benda, hingga berubah menjadi ketertarikan berlebihan.
Perilaku yang pada awalnya normal dan baik, dapat berubah menjadi sesuatu yang menguasai kehidupan jika tidak dikendalikan.
Penyebabnya beragam — mulai dari faktor keturunan, kondisi lingkungan, hingga kebutuhan psikologis yang tidak tercukupi.
Otak individu dengan kepribadian adiktif umumnya bekerja dengan cara yang lebih rentan terhadap “hadiah” (rasa senang atau puas), sehingga ketika menemukan sesuatu yang memicu perasaan positif, mereka cenderung kesulitan untuk melepaskannya.
Dilaporkan oleh Geediting pada hari Rabu (13/8), terdapat delapan kebiasaan sehari-hari yang sering berubah menjadi kecanduan bagi individu dengan kepribadian cenderung adiktif, menurut perspektif psikologis.
1. Mengonsumsi Makanan atau Minuman Kesukaan Secara Berlebihan
Menghargai makanan yang lezat adalah hal yang biasa. Namun bagi seseorang dengan sifat adiktif, rasa puas dari rasa yang enak dapat berkembang menjadi kecanduan makan.
Mereka mungkin terus mencari makanan tertentu, makan meskipun tidak lapar, atau bahkan merasa cemas jika tidak mendapatkannya.
Secara jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan gangguan pola makan atau masalah kesehatan fisik.
2. Bekerja atau Mencari Kinerja Tanpa Batas
Kecanduan kerja merupakan bentuk lain dari kecanduan yang sering terlihat. Pada awalnya, semangat bekerja memberikan rasa pencapaian dan identitas seseorang.
Namun, bagi individu yang memiliki sifat adiktif, dorongan ini dapat melebihi batas yang wajar.
Mereka bersedia mengorbankan waktu tidur, kesehatan, serta hubungan sosial agar tetap “sibuk” dan merasa efisien.
3. Berolahraga Secara Ekstrem
Olahraga memang bermanfaat, namun bagi sebagian individu, rasa senang yang muncul setelah berolahraga bisa menjadi kecanduan.
Orang yang memiliki sifat adiktif mungkin terus meningkatkan tingkat latihan tanpa memperhatikan batas kemampuan tubuh, merasa bersalah jika tidak mengikuti jadwal, atau menolak untuk beristirahat meskipun sedang cedera.
4. Mengakses Media Sosial Tanpa Batasan
Notifikasi, suka, dan komentar memberi dorongan dopamin instan yang membuat otak merasa dihargai. Inilah sebabnya media sosial mudah menjadi kecanduan.
Orang yang memiliki sifat adiktif sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulung layar, terus-menerus mengecek ponsel, atau menilai harga diri mereka melalui interaksi di media online.
5. Mengumpulkan atau Membeli Barang Tanpa Harus
Berbelanja atau mengumpulkan barang bisa memberikan rasa kepuasan, tetapi bagi seseorang yang memiliki kecenderungan adiktif, kebiasaan ini dapat berubah menjadi pembelian impulsif.
Kebahagiaan yang dirasakan saat membeli sesuatu dapat menciptakan siklus berulang, yang terkadang diikuti dengan rasa menyesal kemudian hari. Kecanduan ini juga berpotensi menyebabkan masalah keuangan.
6. Terlibat dalam Kegiatan Sosial atau Komunikasi yang Berlebihan
Bagi sebagian orang, perhatian dan kedekatan dalam hubungan bisa menjadi sumber ketenangan.
Namun, dalam kepribadian yang cenderung adiktif, keinginan untuk bersosialisasi dapat berubah menjadi ketergantungan emosional.
Mereka mungkin kesulitan membiarkan pasangan atau teman memiliki ruang pribadi, atau merasa cemas berlebihan ketika tidak mendapatkan balasan.
7. Mencari Adrenalin Melalui Kegiatan Berisiko
Dari olahraga berisiko tinggi, balapan cepat, hingga permainan taruhan — semuanya mampu memicu lonjakan adrenalin yang mengasyikkan.
Orang yang memiliki sifat adiktif cenderung terus-menerus mencari tantangan baru yang lebih berisiko hanya untuk merasakan sensasi yang sama, meskipun risikonya mengancam keselamatan mereka sendiri.
8. Mengejar keunggulan di segala aspek
Kebiasaan perfeksionis sering kali tampak sebagai sifat yang baik, namun bagi seseorang yang kecanduan, hal ini bisa menjadi perangkap.
Semangat untuk selalu “sempurna” memicu rasa cemas, ketidakpuasan, serta siklus kerja yang terus-menerus.
Akhirnya, mereka sering merasa kelelahan secara emosional, tetapi sulit untuk berhenti dari kebiasaan ini.
Kesimpulan: Menemukan Batas Sehat
Sifat yang cenderung adiktif bukan berarti menjadi keputusan akhir bahwa seseorang akan selalu terjebak dalam kecanduan. Kuncinya adalah kesadaran diri dan kemampuan untuk mengatur batasan.
Psikologi menekankan perlunya mengenali pola tingkah laku, memahami pemicu, serta mencari pilihan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan emosional.
Kebiasaan sering kali dimulai dari hal-hal yang baik — olahraga, produktivitas, hubungan, atau minat — namun ketika menjadi fokus utama kehidupan yang mengabaikan bagian lain, saat itulah kita perlu berhenti sejenak.
Dengan pengelolaan yang tepat, daya yang biasanya memicu obsesi dapat dialihkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
***